Legenda Batu Keramat Papua Barat

Posted by Silver Rabu, 14 Agustus 2013 0 komentar
Batu Keramat terletak di atas Gunung Kamboi Rama, Kabupaten Kepulauan Yapen, papua barat Indonesia. Setiap setahun sekali, masyarakat setempat mengadakan upacara pemujaan terhadap batu keramat itu. Mengapa mereka mengeramatkan dan memuja batu itu? Siapakah yang pertama kali menemukannya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Batu Keramat berikut.

Alkisah, di daerah Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia, terdapat sebuah gunung bernama Kamboi Rama. Di atas gunung itu terdapat dua dusun, yaitu Dusun Kamboi Rama yang dihuni oleh sekelompok manusia, dan Dusun Aroempi yang ditumbuhi tanaman sagu milik seorang raja tanah yang bergelar Dewa Iriwonawani. Dewa Iriwonawani juga memiliki sebuah tifah atau gendang gaib yang diberi nama sikerei atau soworoi. Jika gendang itu berbunyi, para penduduk Dusun Kamboi Rama berkumpul di Dusun Aroempi untuk menyaksikan gendang itu. Namun, tidak semua penduduk dapat melihat gendang gaib itu, kecuali orang-orang tua yang memiliki kekuatan gaib.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk Kamboi Rama, kaum perempuan mencari sagu di Dusun Aroempi milik Dewa Irowonawani, sedangkan kaum laki-laki mencari lauk sagu dengan cara menangkap hewan di hutan. Setiap hari, perempuan Kamboi Rama secara berombongan berangkat ke Dusun Aroempi untuk mencari sagu. Sebelum menebang pohon sagu, terlebih dahulu mereka mengadakan upacara penghormatan kepada Dewa Irowonawani agar mereka bisa memperoleh inti atau sari sagu yang bagus dan dapat menyehatkan tubuh.
Pohon sagu yang sudah ditebang mereka kuliti batangnya untuk mendapatkan sagu yang berada di dalamnya. Sagu tersebut mereka tumbuk dengan menggunakan pangkur. Sesuai dengan nama alat yang digunakan, proses menumbuk sagu ini dikenal dengan istilah memangkur. Sagu yang telah ditumbuk menghasilkan ampas sagu, yaitu mirip dengan ampas kelapa. Kemudian, ampas sagu tersebut mereka beri air lalu memerasnya ke dalam wadah dari belahan bambu. Air perasan tersebut mereka biarkan beberapa saat agar inti sagu mengendap di dasar wadah. Setelah inti sagu mengendap, merekap pun membuang airnya. Kemudian, endapan inti sagu tersebut mereka bentuk seperti bola tenis atau memanjang seperti lontong, lalu menyimpannya ke dalam tumang, yaitu keranjang yang terbuat dari rotan. Setelah itu, mereka membawanya pulang dengan cara menggendongnya di punggung. Begitulah pekerjaan kaum perempuan penduduk Dusun Kamboi Rama setiap hari.
Lama-kelamaan pohon sagu di Dusun Kamboi Rama semakin berkurang. Melihat keadaan itu, Dewa Iriwonawani pun murka. Ia memindahkan tanaman sagunya ke daerah lain. Karena takut mendapat murka dari Dewa Iriwonawani, penduduk Dusun Kamboi Rama memutuskan pindah ke daerah pantai dan mendirikan tempat tinggal baru yang diberi nama Randuayaivi. Terkecuali sepasang suami-istri yang masih tetap tinggal di atas gunung tersebut bersama Dewa Iriwonawai. Sepasang suami-istri tersebut bernama Irimiami dan Isoray. Untuk bertahan hidup, mereka berburu rusa di hutan dan menanam umbi-umbian di ladang.
Pada suatu hari, sepulang dari ladang, Irimiami dan Isoray sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang rimbun. Irimiami duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, sedangkan Isoray duduk di atas sebuah batu besar yang berada di bawah pohon itu. Di tengah asyik beristirahat, tiba-tiba Isoray berteriak memekik dan melompat dari batu itu.
“Aduh, Kakak..! Panas... panas... panas...!” pekik Isoray sambil mengusap-usap bokongnya.
“Apa yang terjadi denganmu, istriku?” tanya Irimiami.
“Entahlah, Kakak! Tiba-tiba batu itu menjadi panas,” jawab Isoray dalam keadaan panik.
Beberapa saat kemudian, batu itu tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap. Karena penasaran, Irimiami pun mencoba duduk di atas batu. Begitu menduduki batu itu, ia pun berteriak memekik sama seperti istrinya. Ia semakin penasaran ingin mencoba tingkat kepanasan batu itu. Ia mengambil daging rusa hasil buruannya dan meletakkannya di atas batu itu. Tak berapa lama kemudian, terciumlah aroma daging rusa yang mengundang selera makan. Setelah matang, mereka pun segera mengangkat dan mencicipi daging rusa itu.
“Hmmmm... lezatnya daging rusa ini,” gumam Irimiami setelah mencicipi sepotong daging rusa itu.
“Istriku! Coba rasakan daging rusa ini!” seru Irimiami seraya memberi sepotong daging rusa kepada istrinya.
Setelah habis mencicipi sepotong daging rusa itu, Isoray pun ketagihan. Karena lapar setelah hampir seharian berburu, mereka pun menyantap daging rusa itu dengan lahapnya hingga habis. Sejak itu, mereka selalu memasak makanan dengan cara meletakkannya di atas batu itu. Semakin hari batu itu semakin banyak mengeluarkan asap panas. Oleh karena itu, Irimiami dan istrinya semakin penasaran ingin selalu mencoba tingkat kepanasan batu itu. 
Irimiami dan istrinya mengambil sebatang bambu, lalu menggosokkannya pada batu itu. Dalam waktu singkat, bambu itu terputus dan gosokan pada bambu itu mengeluarkan percikan api. Setelah itu, mereka mengumpulkan rumput dan daun kering, lalu meletakkannya di atas batu itu. Tak berapa lama kemudian, rumput dan daun itu mengeluarkan gumpalan asap tebal dan panas.
Pada suatu siang yang sangat terik, Irimiami dan istrinya kembali mengumpulkan rumput dan daun kering yang lebih banyak lagi. Rumput dan daun kering tersebut mereka letakkan di atas batu itu. Tak berapa lama mereka menunggu, rumput dan daun kering tersebut terbakar hingga mengeluarkan api yang sangat panas. Melihat kejadian itu, mereka panik dan ketakutan, terutama Isoray.
“Kakak! Apa yang harus kita lakukan? Aku takut terjadi kebakaran di tempat ini,” kata Isoray dengan panik.
Irimiami dan istrinya berusaha untuk memadamkan api di atas batu itu, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka pun segera memohon bantuan kepada Dewa Iriwonawai. Dengan kesaktiannya, Dewa Iriwonawai berhasil memamdamkan api itu. Rupanya, kejadian tersebut tidak membuat Irimiami dan istrinya jera. Mereka terus melakukan percobaan terhadap batu itu. Mereka kembali meletakkan rumput, daun, dan kayu kering yang lebih banyak lagi di atas batu itu. Tak pelak lagi, asap tebal pun mengepul dan api menyala sangat besar dan panas di puncak Gunung Kamboi Rama selama tujuh hari tujuh malam. Mereka kembali panik dan ketakutan. Tak henti-hentinya mereka memohon kepada Dewa Iriwonawai agar memadamkan api tersebut.
Para penduduk Randuayaivi yang berada di pantai pun terkejut ketika menyaksikan kejadian itu. Mereka mengira terjadi kebakaran hutan di atas Gunung Kamboi Rama. Ketika mendengar gendang soworai berbunyi, mereka pun segera berlari menuju ke Gunung Kamboi Rama untuk menyaksikan peristiwa tersebut lebih dekat. Setibanya di atas gunung itu, mereka disambut oleh Irimiami dan Isoray. Irimiami pun menceritakan tentang keajaiban batu itu kepada mereka. Mulanya, para penduduk tidak percaya pada cerita itu. Namun setelah Irimiami dan istrinya menyuruh mereka mencicipi makanan yang telah dipanaskan di atas batu itu, barulah mereka percaya. Sejak itulah, Irimiami dan istrinya menamai batu itu Batu Keramat dan mengajak para penduduk untuk mengadakan pesta adat. Penduduk Randuayaivi pun setuju.
Keesokan harinya, penduduk Kampung Randuayaivi berkumpul di atas Gunung Kamboi Rama untuk mengadakan pesta. Mereka membawa perbekalan seperti keladi, ikan, dan makanan lainnya. Berbagai jenis makanan tersebut mereka letakkan di atas batu keramat. Pesta adat tersebut berlangsung selama tiga hari tiga malam. Irimiami bersama istri dan seluruh penduduk mengelilingi batu keramat itu sambil menari dan memujanya. Selama pesta berlangsung, Irimiami dan istrinya juga menceritakan berbagai peristiwa yang pernah mereka alami kepada seluruh penduduk Kampung Randuayaivi. Hingga saat ini, masyarakat Papua, khususnya yang berada di Kabupaten Kepulauan Yapen, mengeramatkan batu api itu. Mereka percaya bahwa Irimiami dan Isoray adalah orang pertama yang menemukannya. Setahun sekali, mereka mengadakan upacara pemujaan terhadap batu keramat itu.

Baca Selengkapnya ....

Asal Mula Kerang Di Nimboran Papua

Posted by Silver Kamis, 11 Juli 2013 0 komentar
Nimboran merupakan sebuah kampung di daerah pedalama papua Indonesia, yang terkenal memiliki banyak kerang laut. Menurut cerita, keberadaan kerang-kerang laut di Kampung Nimboran disebabkan oleh suatu peristiwa ajaib. Peristiwa apakah yang menyebabkan keberadaan kerang-kerang laut tersebut di Kampung Nimboran? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Kerang di Nimboran berikut ini!

Alkisah, di Desa Congwei, di daerah pantai utara Papua, hiduplah seorang pemuda bernama Wei. Masyarakat sekitar memanggilnya Tangi, yaitu seekor ular jadi-jadian. Jika siang hari ia berwujud ular besar, dan pada malam harinya berwujud manusia. Ia dapat berbicara serta makan dan minum layaknya manusia biasa.
Menurut cerita, Wei datang dari langit menuju ke bumi melalui sebuah pohon yang disebut Ganemu, yaitu sejenis pohon yang buahnya enak dimakan. Ia tinggal di dalam sebuah gua yang menghadap ke laut dan membelakangi bukit di dekat pohon Ganemu tersebut. Ia memilih tinggal di gua itu agar mudah mencari ikan dan terlindung dari udara dingin pada malam hari. Di samping itu, ia juga tidak terganggu oleh orang lain. Di dalam gua itu, ia tinggal bersama seorang nenek yang senantiasa membantu mengurus segala keperluan hidupnya.
Ketika turun dari langit, Wei membawa bibit tanaman seperti kelapa, pisang, dan biji sagu untuk dikembangbiakkkan di bumi. Selain itu, ia juga membawa biji pohon ajaib yang bernama Rawa Tawa Pisoya, yaitu sejenis pohon yang dapat berbuah kerang berharga yang nilainya sama dengan uang. Semua bibit tanaman tersebut ia tanam di sekitar tempat tinggalnya, sedangkan biji pohon ajaib itu ia tanam di dalam gua. Ketika pohon ajaib itu telah berbuah, Wei memamagari dan menutupinya dengan tikar agar buahnya tidak dimakan burung.
Pada suatu hari, Wei pulang dari berburu ikan di pantai. Saat itu, ia sedang berwujud ular. Ia sangat terkejut ketika merayap hendak memeriksa pohon ajaibnya. Ia mendapati beberapa buah Rawa Tawa Pisoya yang masih muda berserakan di bawah pohon.
“Hei, siapa yang memetik buah pohon ajaibku?” gumamnya.
Betapa terkejutnya ia ketika menoleh ke atas pohon ajaib itu. Ia melihat dua orang gadis sedang asyik memetik buah yang sudah masak dan makan sepuasnya, dan membuang buah yang masih muda. Rupanya, kedua gadis itu kakak beradik, yaitu Lermoin (sulung) dan Yarmoin (bungsu). Wei tidak mau mengusik mereka, karena ia tahu mereka akan turun sendiri dari pohon itu.
“Ah, pasti mereka akan turun jika sudah puas dan kenyang,” ucap Wei sambil mengawasi mereka dari bawah pohon.

Baca Selengkapnya ....

Peu Mana Meinegaka Sawai ( Kabut Yang Membawa Petaka) Papua

Posted by Silver Rabu, 05 Juni 2013 0 komentar
Peu Mana Meinegaka Sawai merupakan bahasa dari daerah Papua yang berarti kabut membawa petaka. Kabut yang dianggap sering membawa petaka itu berada di puncak Gunung Zega di daerah Bilai, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika kabut itu sewaktu-waktu muncul di puncak gunung pertanda akan terjadi petaka besar. Bagaimana asal mula kepercayaan itu muncul pada masyarakat Paniai? Lalu, petaka besar apakah yang akan terjadi jika kabut itu muncul di puncak Gunung Zega? Ikuti kisahnya dalam cerita Peu Mana Meinegaka Sawai berikut ini!

Alkisah, di daerah Paniai, Papua, terdapat sebuah kampung bernama Bilai. Tidak jauh dari kampung terdapat sebuah gunung yang berdiri tegak dan tinggi bernama Zega. Penduduk kampung Bilai percaya bahwa gunung itu ada penghuninya. Apabila terserang wabah penyakit, mereka meminta sering bantuan kepada penghuni gunung itu melalui seorang pawang yang diyakini memiliki kesaktian yang tinggi.
Suatu hari, penduduk Bilai ingin mengetahui dan melihat langsung wujud penunggu gunung itu. Oleh karena rasa penasaran tersebut, para penduduk mengundang seorang pawang untuk bermusyawarah di Balai Desa.
“Maaf, Pawang! Kami mengundang sang pawang untuk berkumpul di tempat ini atas permintaan seluruh warga,” ungkap tetua kampung membuka musyawarah itu.
“Kalau boleh saya tahu, ada apa gerangan?” tanya sang pawang penasaran.
Tetua kampung kemudian menjelaskan mengenai maksud mereka. Setelah mendengar penjelasan tersebut, sang pawang pun dapat memahami keinginan seluruh warga.
“Baiklah kalau begitu. Saya akan mengantar kalian menuju ke puncak Gunung Zega. Saya pun merasa penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya penghuni Gunung Zega itu. Selama ini saya selalu meminta bantuan kepadanya, tetapi belum pernah bertemu secara langsung,” ungkap sang pawang.
Keesokan hari, para penduduk dari kaum laki-laki berangkat bersama sang pawang menuju ke puncak Gunung Zega dengan membawa senjata berupa tombak. Perjalanan yang mereka lalui cukup sulit karena harus melewati hutan lebat, menyeberangi sungai, dan memanjat tebing yang terjal. Meski demikian, mereka berjalan tanpa mengenal lelah dan pantang menyerah demi menghilangkan rasa penasaran mereka.
Setibanya di puncak Gunung Zega, para penduduk beristirahat untuk melepaskan lelah. Suasana di puncak gunung itu sangat dingin dan sunyi mencekam. Yang terdengar hanya suara-suara binatang dan kicauan burung memecah kesunyian. Saat mereka tengah asyik beristirahat, tiba-tiba seekor biawak besar melintas tidak jauh dari tempat mereka beristirahat.
“Hai, lihat! Makhluk apakah itu?” teriak salah seorang anggota rombongan ketika melihat biawak itu.
Mendengar teriakan itu, anggota rombongan lainnya segera beranjak dari tempat duduk mereka. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat seekor biawak besar berkepala manusia, kakinya seperti kaki cicak, dan berkulit keras seperti kulit biawak. Dengan tombak di tangan, mereka kemudian mengepung biawak itu.
“Ayo kita habisi saja makhluk aneh itu!” seru seorang warga.
“Tenang saudara-saudara! Kita tidak perlu gegabah. Saya yakin, makhluk inilah penghuni gunung ini,” kata sang pawang.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan terhadap makhluk ini?” tanya seorang warga.
“Sebaiknya kita tangkap saja biawak ini,” ujar sang pawang.
Akhirnya para penduduk bersepakat untuk menangkap biawak itu dan membawanya pulang ke kampung. Setiba di kampung, biawak berkepala manusia itu menjadi tontonan seluruh warga. Mereka sangat heran melihat wujud makhluk itu. Kaum lelaki segera membuatkan kandang biawak itu untuk dipelihara. Jika suatu ketika mereka mendapat musibah, mereka dengan mudah meminta bantuan kepada biawak yang diyakini sebagai penghuni Gunung Zega itu.
Tanpa mereka duga, ternyata biawak itu dapat berbicara layaknya manusia. 
“Wahai seluruh penduduk kampung ini! Saya berjanji akan memenuhi segala keinginan kalian tetapi dengan satu syarat,” kata biawak itu.
“Apakah syaratmu itu wahai biawak?” tanya sang pawang.
“Kalian harus memberikan saya satu kepala suku atau kepala kepala perang sebagai tumbal,” pinta biawak itu.
Para penduduk pun tergiur mendengar janji biawak itu. Setiap penduduk menginginkan harta benda. Untuk itulah, mereka berlomba-lomba mencari satu kepala suku atau kepala perang untuk diserahkan kepada biawak itu. Perang antarsuku pun tak terhindarkan sehingga banyak kepala perang dan kepala suku yang menjadi korban.
Lama-kelamaan, kaum lelaki di daerah itu semakin hari semakin berkurang. Setelah melihat akibat dari menuruti permintaan biawak itu, para penduduk menjadi sadar. Akhirnya mereka bersepakat untuk membinasakan biawak itu agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban. Mereka pun menombak biawak itu hingga tewas. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, biawak itu sempat menyampaikan sebuah pesan kepada warga.
“Jika ada kabut yang muncul di puncak Gunung Zega, maka itu pertanda akan terjadi perang.”
Sejak itulah, penduduk Bilai percaya bahwa kabut di puncak Gunung Zega adalah kabut pembawa petaka.

Baca Selengkapnya ....
Copyright of Cerita Nusantara .